Sekilas Profil

PROFIL

PENGURUS BESAR MAJELIS DZIKIR HUBBUL WATHON

 

SEJARAH KELAHIRAN

Eskalasi politik pasca-Reformasi 1998 terus mengalami dinamisasi. Sejumlah konflik bernuansa SARA (Suku, Ras dan Agama) beberapa kali terjadi. Nilai-nilai keberagama tergores, sementara aksi kekerasan merajalela. Situasi internasional yang tanpa batas-antarnegara kian membuka ruang ancaman dalam skala domestik, tak terkecuali masuknya faham dan ideologi-ideologi yang mengancam keutuhan falsafah bangsa dan negara, yakni Pancasila.

Kelahiran Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MD Hubbul Wathon) pada dasarnya berangkat dari kegelisahan ulama-ulama moderat yang menilai situasi yang terjadi di atas. Para ulama moderat melihat perlu mendorong kembali spirit keagamaan dan kebangsaan masyarakat Indonesia. Untuk mengingatkan kembali rekam jejak perjalanan panjang Indonesia yang bersepakat menjunjung tinggi nilai-nilai universalitas dalam wujud Pancasila hasil pemikiran serta perenungan para pendiri bangsa (founding fathers).

Islam dan tradisi kehidupan masyarakat perlu dikombinasi. Keduanya menjadi sarana paling strategis untuk mempersatukan dan mempertemukan agama (Islam) dengan nasionalisme dan wawasan kebangsaan. Hal itulah yang menjadi alasan didirikannya MD Hubbul Wathon.

MD Hubbul Wathon lahir melalui sebuah pertemuan nasional para ulama (Halaqoh Nasional Alim Ulama) di Jakarta, tepatnya di Hotel Borobudur, 13-14 Juli 2017, dengan mengangkat tema “Memperkokoh Landasan Ke-Islaman Nasionalisme Indonesia.” Pilihan tema yang sudah melalui diskusi cukup panjang, merujuk dinamisasi politik yang mengarah pada terjadinya upaya pembenturan kepentingan antaa kelompok agamis dan nasionalis.

Pertemuan yang dihadiri sekitar 700-an alim ulama dari seluruh Indonesia, para pejabat negara, Presiden RI Ir. H. Joko Widodo dan sejumlah kyai/ulama sepuh, tokoh nasional antara lain: KH Miftachul Akhyar, Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, KH Maimoen Zubair, KH Bagindo Letter, Tuan Guru Haji Turmuzi Badruddin, KH Syaikh Ali Akbar Marbun, KH Anwar Manshur, Gus Salam, KH Raden M. Irfai’ Nachrowi, KH Mustofa Aqil Siroj, Hj Megawati Soekarnoputri, Hj Lili Wahid, Jenderal Polisi Bambang Gunawan, dan pelaksanaannya langsung diketuai Sekretaris Jenderal Presidium Nasional Majelis Dzikir Hubbul Wathon, Hery Haryanto Azumi.

Di waktu yang sama, Kamis, 13 Juli 2017, Prof. DR (HC) KH Ma’ruf Amin mendeklarasikan berdirinya MD Hubbul Wathon. Langkah pertama yang dilakukan MD Hubbul Wathon adalah menggelar “Deklarasi Komitmen untuk Mempertahankan NKRI atas Landasan ke-Islaman.” Keberadaan MD Hubbul Wathon diharapkan menjadi sarana terbangunnya aliansi/koalisi strategis bagi elemen Islam Nasionalis dan Nasionalis Islam untuk menyelamatkan bangsa dan negara dari intervensi faham, ajaran dan ideologi yang membahayakan keutuhan NKRI. Selain itu merupakan wadah seluruh elemen bangsa merumuskan solusi atas segala permasalahan yang dihadapi bangsa.

PANDANGAN KEAGAMAAN

Nilai-nilai universal agama (Islam) dalam kenyataannya tidak bisa dipraktikkan hanya satu sisi semata. Universalitas Islam harus dimodifikasi dengan nilai-nilai kebangsaan yang sejak lama sudah ada di Indonesia. Demokrasi di Indonesia adalah demokrasi religius yang mengandung nilai-nilai kebangsaan.

Agama menjadi bukti sebagai sebuah sistem yang melahirkan moralitas bangsa. Sementara tidak akan mungkin nilai-nilai universal berdiri tanpa adanya pijakan kokoh dalam membangun moralitas.  Nilai-nilai kebangsaan yang ada di Indonesia justru bersumber dari agama dan budaya. Sedangkan keagamaan dan kebudayaan sudah tentu terakomodir oleh Pancasila sebagai ideologi negara.

Lantas bagaimana kaitan Islam dengan universalitas tadi? Berbagai literatur ilmiah menegaskan bahwa Islam merupakan agama universal. Sebagai bukti Islam membawa misi rahmatan lil ‘alamiin, rahmat bagi sekalian alam. Tidak membeda-bedakan kelompok, suku, golongan dan bangsa. Artinya, Islam bukan sebatas agama penutup bagi agama-agama yang dibawa para rasul. Akan tetapi menjadi agama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada seluruh umat manusia.

“Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’: 28).

Oleh karenanya, Islam memiliki prinsip-prinsip yang sempurna untuk menjawab persoalan pada sendi-sendi kehidupan. Sebagaimana Surat Al-Maidah ayat 3: “…pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhoi Islam itu menjadi agama bagimu.”

Surat An-Nahl ayat 89: “Dan kami turunkan kepadamua al-Kitab (Al-Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”

Universalitas Islam menjadi landasan pembentukan wawasan kebangsaan. Islam yang universal adalah amanat Allah SWT yang dilaksanakan untuk kehidupan manusia. Universalitas Islam merupakan kekuatan bagi umat Islam untuk membangun manusia dalam perbedaan corak kondisi dan budaya masing-masing. Penerapan ajaran Islam, khususnya di Indonesia, sejalan dengan keberadaan perbedaan adat-istiadat – budaya.

Pemikiran tersebut membuka ruang agar hidup berbangsa dan bernegara harus lapang dada dan toleran dalam menyikapi berbagai perbedaan yang menjadi kenyataan bangsa Indonesia. Seperti norma-norma kemasyarakatan, adat istiadat, dan kekhasan Indonesia lainnya. Kemasan budaya lokal yang di dalamnya terdapat muatan-muatan ajaran Islam yang punya andil besar dalam membangun masyarakat Indonesia.

PANDANGAN KEBANGSAAN

Nasionalisme/cinta tanah air dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sangatlah penting. Pentingnya tanah air dapat kita lihat perjalanan hijrah Nabi Muhammad dari Makkah ke Madinah. Nabi ingin mempunyai tanah air (Negara), sehingga dakwah Islam bisa berkembang dengan baik.

Ini pula mengapa Al-Quran masih menyebut tentang kisah-kisah Fir’aun serta kisah para nabi lainnya. Sebab, kisah-kisah tersebut menyingkapkan adanya sejarah tentang tanah air atau daerah yang pernah dihuni oleh raja-raja terdahulu dan para nabi dalam menjalankan roda pemerintahan dan misi kenabiannya.

MD Hubbul Wathon menilai bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara harus dibangun di atas nilai-nilai persaudaraan, persatuan dan kesatuan nasional. Perpaduan Islam dan nasionalis harus dikuatkan agar ada bangunan pemahaman yang mengedepankan kasih sayang (rahmah), perdamaian (salam), toleransi (tasamuh). Kekuatan Islam dan nasionalis menjadi faktor integratif (pemersatu).

Harus diakui bahwa kemajemukan yang ada di Indonesia adalah realita/fakta yang tidak bisa dihindarkan dan tak terbantahkan. Adanya upaya untuk menghilangkan kemajemukan di Indonesia merupakan tindakan yang sia-sia. Kenapa demikian? Karena upaya tersebut justru menabrak realita dan fakta kehidupan berbangsa di bumi nusantara.

Justru kemajemukan di Indonesia harus dikelola dengan baik dan benar.  Misalnya, dengan mengutamakan jalinan komunikasi baik antar-pemeluk agama, dan kelompok-kelompok masyarakat. Untuk mendesain pola komunikasi yang baik tersebut, perlu suatu koridor yang mampu membingkai kemajemukan Indonesia. Hal ini agar tidak terjadi potensi konflik dan disintegrasi.

VISI

Terwujudnya suatu tatanan masyarakat yang agamis dan nasionalis, berkeadilan dan demokratis.

 

MISI

Mengonsolidasikan semua elemen/perwakilan kelompok masyarakat untuk mencarikan jalan keluar penyelesaian masalah-masalah yang dihadapi bangsa.

STRATEGI

  1. Merumuskan tugas dan fungsi dari masing-masing perangkat organisasi secara jelas, agar mampu melaksanakan program kerja organisasi.
  2. Mendesain pola hubungan/komunikasi baik itu secara internal organisasi maupun eksternal organisasi.
  3. Menjalankan empat pilar gerakan MD Hubbul Wathon, yakni halaqoh, dzikir, gerakan sosial, dan pemberdayaan ekonomi umat.
  4. Merancang program percontohan yang mampu mendorong kreativitas di tiap-tiap daerah.
  5. Melakukan sistem pengawasan dan evaluasi yang transparan.

TUJUAN ORGANISASI

MD Hubbul Wathon bertujuan memadukan/menguatkan ajaran agama (Islam) dengan nasionalisme (cinta tanah air), untuk mewujudkan masyarakat demokratis dan berkeadilan sehingga kesejahteraan masyarakat bisa terwujud dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

STRUKTUR ORGANISASI

Sebelum terbentuknya struktur organisasi, MD Hubbul Wathon membentuk Presidium Nasional dengan menunjuk Hery Haryanto Azumi sebagai Sekretaris Jenderal. Pasca deklarasi, struktur organisasi MD Hubbul Wathon adalah sebagai berikut:

  1. Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon (tingkat pusat).
  2. Pengurus Wilayah Majelis Dzikir Hubbul Wathon (tingkat provinsi).
  3. Pengurus Cabang Majelis Dzikir Hubbul Wathon (tingkat kabupaten/kota).
  4. Masing-masing tingkat kepengurusan memiliki biro-biro disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah.