Peringati Wafatnya Pendiri NU, MDHW Gelar Tahlilan dan Do’a Kebangsaan

hubbulwathon.org, Jakarta – Dalam rangka memperingati 73 tahun meninggalnya salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH. Hasyim Asy’ari, Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon (PB MDHW) menggelar dzikir, tahlil dan do’a kebangsaan.

Pada acara tersebut, KH. Nurul Yaqin Ishaq dalam sambutannya mengungkapkan bahwasanya Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari merupakan tauladan yang mesti dicontoh perilakunya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Beliau merupakan tokoh sentral panutan warga Nahdlatul Ulama dalam berbangsa dan bernegara,” jelas KH. Nurul Yaqin yang memberikan sambutan, Selasa (22/5/2018) malam di daerah Tebet, Jakarta Selatan.

Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan bahwa sikap dan tauladan KH. Hasyim Asy’ari bisa menjadi penawar dahaga di tengah krisis keteladanan akhir-akhir ini.

“Sebagai bangsa, kita sedang mengalami krisis keteladanan. Memperingati wafatnya Hadratussyaikh berarti kita sedang mengingat, merefleksikan, sekaligus meneladani perjuangan beliau,” terangnya lagi.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PB MDHW, Hery Haryanto Azumi, mengungkapkan bahwa memperingati haul Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari merupakan alarm pengingat bagi segenap bangsa atas jasa besar pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus arsitek NKRI tersebut.

“Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari bukan saja sebagai pendiri Nahdlatul Ulama, namun beliau adalah arsitek berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beliau membagi peran para tokoh waktu itu untuk melakukan tindakan yang menguatkan sendi-sendi suatu bangsa,” kata pria yang juga menjabat sebagai wakil sekretaris PBNU tersebut.

Untuk itu, diungkapkan Hery bahwa kehadiran Majelis Dzikir Hubbul Wathon salah satunya adalah guna melanjutkan semangat dan amanah kebangsaan KH. Hasyim Asy’ari.

“Hubbul Wathon ingin menjaga amanah kebangsaan Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, bahwa keamanan dan kerukunan berbangsa dan bernegara merupakan elan vital menjalankan ajaran agama Islam,” tandasnya.

Sekadar informasi, KH. Hasyim Asy’ari meninggal pada malam ketujuh bulan Ramadan sekitar pukul 03.00 WIB. Beliau mengalami pendarahan otak setelah mengetahui tentara penjajah berhasil melumpuhkan Malang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *