Majelis Dzikir Hubbul Wathon D.I. Yogyakarta Deklarasi Lawan Hoax

Hubbulwathon.org, Yogyakarta – Majelis Dzikir Hubbul Wathon Daerah Istimewa Yogyakarta mengadakan kegiatan dengan tajuk “Deklarasi Menolak Hoax”. Kegiatan yang dilaksanakan di Ponpes Qoshrul Arifin Plosokuning Yogyakarta ini dihadiri sekitar 100 orang perwakilan dari Tokoh Masyarakat, Pimpinan Pondok Pesatren dan Jamaah Majelis Dzikir Hubbul Wathon Yogyakarta.

Menurut Koordinator kegiatan ini, Gus Ruhullah Taqy Murwat, bahwa hingga saat ini tidak ada yang kuasa menghentikan arus informasi yang begitu cepat menyebar di media sosial. Bahkan, sebuah informasi di dunia maya bisa dipelintir dan bisa menjadi sebuah kabar bohong atau “hoax”. Hoax dan ujaran kebencian sendiri, dikatakan Gus Ruhullah Taqy, terbukti menyebabkan konflik antarkelompok dan krisis kepercayaan yang mengancam kualitas demokrasi Indonesia

“Ada bahaya besar yang mengancam bila penyebar berita hoax dan juga fitnah tersebut tidak ditindak dengan tegas. Bahaya besar yang dimaksud bisa mengancam persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia”, ujarnya.

Menurutnya, Indonesia sejatinya telah memiliki perangkat hukum untuk menindak dan memberantas hoax dan ujaran kebencian, misalnya Pasal 28 Ayat 1 dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Pasal yang telah disetujui tersebut sebenarnya tinggal melakukan tindak lanjut saja,” jelasnya kemudian.

Selain itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa MUI Nomor 24 Tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah melalui Media Sosial. Bahwa haram hukumnya bagi setiap Muslim melakukan ujaran kebencian, menyebar informasi bohong (hoax), fitnah, ghibah, permusuhan atas dasar suku, agama, ras, antargolongan (SARA) di medsos.

“Semua pihak pasti akan dirugikan dengan adanya hoax atau berita bohong, baik pelaku, penyebar, korban ataupun masyarakat yang menerima informasi itu. Oleh karenanya semua itu harus dicegah,”jelasnya.

Sementara itu dihubungi terpisah, Sekretaris Jendral Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon Hery Haryanto Azumi berharap para tokoh masyarakat (ulama dsb) harus berhati-hati dengan hoax karena yang bersangkutan adalah panutan umat.

“Jika panutan umat memamah informasi yg tidak benar dan kemudian disebarkan maka masyarakat secara umum akan terjebak dalam kesesatan kolektif,” katanya.

Korban hoax tidak pandang bulu, bisa pemerintah, ulama dan masyarakat secara umum. Oleh karena itu, harus dibudayakan untuk mencari ilmu atau informasi dari sumber-sumber yang kredibel.

“Orang yang belajar agama, misalnya, tidak bisa hanya sekedar mengutip satu ayat atau dua ayat saja tapi harus memiliki guru yang memiliki sanad dan nasab keilmuan yang jelas,” ujar Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia 2005-2008 tersebut.

Hery mengatakan fenomena penceramah agama yang kurang memahami dasar-dasar agama di TV harus menjadi pelajaran berharga agar umat tidak salah dalam memilih panutan. (m.a.k)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *